Kurang dari sepuluh tahun yang lalu , Gubernur Jawa Tengah Soepardjo Roestam pada suatu hari mendengar laporan , bahwa kehidupan Seniman Besar Gesang pencipta lagu Bengawan Solo itu dalam keadaan sangat menyedihkan . Rupanya nasib Gesang pada hari tuanya kurang beruntung . Ini dapat dibuktikan , bahwa pada ketika itu Gesang hidup di dalam sebuah gubug kecil yang telah reot .
Nasib Seniman Gesang yang menyedihkan itu kemudian telah mengetuk hati Gubernur Soepardjo Roestam untuk segera memberi uluran tangan kepada Gesang agar supaya pindah tempat yang layak .
Gubernur telah memerintahkan supaya Gesang pindah ke Perumnas Palur . Rupanya pak Pardjo telah memberi hadiah sebuah rumah kepada pak Gesang . Dengan demikian diharapkan oleh Gubernur agar supaya nasib serta kehidupan Sang Seniman Besar tersebut dapat terangkat ke tempat yang lebih baik .
Sejak pindah tempat tinggal di Perumnas Palur itulah selanjutnya secara perlahan-lahan tetapi pasti nasib hidup Sang Seniman mengalami perubahan . Begitu juga jiwa Sang Seniman yang beberapa tahun lamanya mengalami kendur serta "nglokro" sehingga tidak mampu mengembangkan sayap kesenimanannya lagi seperti pada masa jayanya dulu , tidak terasa telah berubah menjadi segar kembali . Cita-citanya telah dapat memancar kembali sebagai seorang Seniman yang utuh .
Saya mempostingkan ini karena saya suka sekali terhadap buku yang diatas .. # GESANG TETAP GESANG .
Readmore »
Nasib Seniman Gesang yang menyedihkan itu kemudian telah mengetuk hati Gubernur Soepardjo Roestam untuk segera memberi uluran tangan kepada Gesang agar supaya pindah tempat yang layak .
Gubernur telah memerintahkan supaya Gesang pindah ke Perumnas Palur . Rupanya pak Pardjo telah memberi hadiah sebuah rumah kepada pak Gesang . Dengan demikian diharapkan oleh Gubernur agar supaya nasib serta kehidupan Sang Seniman Besar tersebut dapat terangkat ke tempat yang lebih baik .
Sejak pindah tempat tinggal di Perumnas Palur itulah selanjutnya secara perlahan-lahan tetapi pasti nasib hidup Sang Seniman mengalami perubahan . Begitu juga jiwa Sang Seniman yang beberapa tahun lamanya mengalami kendur serta "nglokro" sehingga tidak mampu mengembangkan sayap kesenimanannya lagi seperti pada masa jayanya dulu , tidak terasa telah berubah menjadi segar kembali . Cita-citanya telah dapat memancar kembali sebagai seorang Seniman yang utuh .
Sejak itu , dalam setiap kesempatan ada orang punya peralatan mantu atau sunatan atau bahkan kaulan dan lain-lainnya lagi , telah tampil kembali di tengah-tengah kerumunan orang banyak penyanyi tua yang tetap memiliki suara empuk serta meyakinkan bagi setiap pendengarnya . Itulah pak Gesang yang kemudian telah bangkit kembali dari tidurnya beberapa tahun lamanya , tetapi kemudian muncul lagi sebagai penyanyi tua yang masih tetap dikagumi orang .
Lebih-lebih jika Gesang sedang menyanyikan lagu-lagu karya ciptaannya sendiri, maka jiwa dari setiap lagunya itu telah dapat manunggal dengan nada suaranya . Bahkan telah banyak turis Jepang yang datang ke kota Solo hanya ingin mendengar suara asli yang keluar dari mulut Sang Pencipta Lagu Bengawan Solo itu .
Saya mempostingkan ini karena saya suka sekali terhadap buku yang diatas .. # GESANG TETAP GESANG .
Beberapa tahun kemudian , datanglah lagi kesempatan yang tak terduga bagi diri pak Gesang . Gubernur Jawa Tengah (pengganti pak Soepardjo Roestam) H. Mohammad Ismail belum lama ini juga telah memberi uluran tangan kepada Sang Seniman Besar itu berupa uang hadiah sebesar Rp 1.800.000,- (satu juta delapan ratus ribu rupiah). Gubernur H. Mohammad Ismail mengatakan bahwa pemberian uang kepada pak Gesang tersebut janganlah hendaknya dinilai "besarnya" atau "jumlahnya" Pemberian tersebut adalah sebagai suatu penghargaan dari seorang Gubernur kepada Seniman serta Komponis keroncong yang sulit dicari tandingannya itu . Oleh karena kenyataan telah menunjukkan kepada kita, bahwa lagu Bengawan Solo karya pak Gesang itu kini telah menjadi milik rakyat serta "Identitas Daerah Jateng" .
Harapan Gubernur H.M. Ismail kepada pak Gesang ialah hendaknya Sang Seniman Abadi tersebut dapat menikmati hidup sebagaimana layaknya . Bekal uang hadiah sebesar itu dapat dijadikan sekedar modal usaha apa saja untuk menyambung hidup selanjutnya .
Bagaimana selanjutnya tentang ihwal kehidupan Sang Seniman Besar itu sehari-harinya dapat kita jumpai dalam cerita ini seperti telah diceritakannya langsung dari Sang Seniman kepada penulis buku ini ( T.Wedy Utomo ) .
~itulah cerita #1 dari buku "GESANG TETAP GESANG" & ada sedikit editan dari saya~
#saya akan menuliskan #2 dilain waktu .




















