Senin, 24 Januari 2011

Simpati pada Si Setan (Pengantar dari Ayu Utami untuk komik "Hidup itu Indah")

"Simpati pada Si Setan"


Sympathy to The Devil adalah salah satu judul lagu the Rolling Stone.
Pendek cerita, begini saja: Menurut Aji Prasetyo, pada suatu hari Setan sudah demikian frustasi sehingga ia ingin gantung diri. Aji mencoba menggagalkan tindakan itu dengan bilang bahwa mereka yang bunuh diri akan ditolak masuk surga. Setan pun berkata, dengan sedih, "dari dulu juga sudah begitu, kan?"
Kasihan setan. Dari dulu memang dia sudah di neraka. Ke mana dia bisa lari dari kenyataan?
Di sinilah cerita bisa bermula. Cerita tentang paradoks agama. Kita diajar membenci setan. Tapi, sesungguhnya, pada saat yang sama kita membutuhkannya juga (jangan-jangan malah merindukannya). Paradoks ini digambarkan dengan baik dalam komik ini. Sebab, jika setan dilenyapkan, ke mana kita akan mengarahkan kebencian kita?
Setan adalah kambing hitam, tempat kita meletakkan dorongan dan perbuatan jahat kita agar (seolah-olah) terjadi di luar diri kita. Setan memungkinkan kita merasa bersih dan suci. Jadi, jangan-jangan secara psikologis kita memang membutuhkan setan agar kita bisa membangun citra diri nan mulia.
Tapi, tunggu dulu. Apa betul dari dulu setan sudah di neraka? Dari kapan?
Tradisi Islam mengisahkan bahwa setan pada mulanya adalah malaikat yang menolak ketika Allah bertitah agar para malaikat menyembah Adam. Ini sebuah metafora, jika bukan "ringkasan pengetahuan rumit", yang bernas dan menarik. Kita bisa menafsirkannya sebagai kesombongan. Tapi kita juga bisa menafsirkannya sebagai kemandirian dan sikap kritis si setan. Sebab, bukanlah manusia kemudian hari memang terbukti tidak semulia itu untuk disembah? Setan tidak mau menyembah makhluk selain Tuhan. Artinya ia monoteis sejati. Tapi, titah Tuhan sendiri membuat ia harus menyembah makhluk lain. Tidakkah ini sebuah paradoks juga? Kedua tafsir itu terkandung dalam kiasan tadi, yang membuatnya jadi sangat menarik.
Tapi, ada baiknya juga kita melihat tradisi yang lebih tua: sejarah setan yang ditulis dalam kitab-kitab yang lebih awal, yaitu Alkitab Yahudi dan Kristen. Jika kita membaca kitab-kitab itu dengan teliti, tampaklah bahwa setan itu mirip dengan Windows, atau segala piranti lunak komputer. Berubah dari waktu ke waktu. Ada Windows 97, ada Windows Vista, dan seterusnya, yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan tantangan zaman.
Begitu juga setan. Ketika muncul pertama kali, setan belum menjadi penjaga neraka. Setan hanya muncul sebagai penguji kesetiaan manusia pada Tuhan--seperti menguji Adam dan Hawa untuk makan buah kuldi. Malah, kalau kita baca Perjanjian Lama, katakanlah sampai kisah Nabi Musa, surga dan neraka belum disebut-sebut. Setan sebagai musuh dan penganiaya jiwa-jiwa dalam neraka baru muncul setelah Kerajaan Israel (yang didirikan Raja Daud dan berpuncak pada kejayaan Raja Sulaiman) runtuh dan orang-orangnya terdiaspora. Begitulah, dari tinjauan filologis, versi setan berkembang dari zaman ke zaman.
Komikus kita memang mewarisi versi terakhirnya. Ia membacanya dengan sikap kritis dan menggoretkan kegelisahan itu dalam buku ini. Jangan khawatir, komik-komik ini tidak melulu tentang setan. Ini bukan komik azab neraka, kok. Aji Prasetyo membuat sejenis "esai komik" atau "komik komentar sosial" mengenai keadaan sosial, politik, dan budaya di sekitarnya, yang ia lihat, ia baca, ia renungkan. Ia menulis tentang kemiskinan, budaya pop, invasi budaya asing, karakter bangsa ini, terorisme, media massa, aktivis gerakan kiri, teman pribadinya, dan banyak lagi. Termasuk tak sengaja menunjukkan bias maskulin dalam perkara jender.
Tapi, di bawah peristiwa-peristiwa yang terjadi di permukaan, ada sebuah arus kegelisahan yang dalam, yang mengarah pada kemunafikan masyarakat kita. Dan di masa ini, kemunafikan itu paling kerap memakai baju agama. Di masa Suharto, kemunafikan itu biasa mengambil bungkus nasionalisme dan Pancasila. Di masa Suharto, kambing hitamnya adalah komunisme. Di "masa susila" ini (hey, presiden kita sekarang namanya Susilo!), kambing hitamnya adalah setan dan segala yang dapat pantas diduga bersekutu dengan setan. Karena itulah saya menekankan perkara setan ini di pengantar. Saya kira episode "Setan Menggugat!!" memberi penjelasan bagi banyak tema-tema lain komiknya.
Barangkali, sebelum masuk ke dalam lembar-lembar "komik kritik sosial" yang menggelitik ini, marilah kita renungkan kembali gugatan setan itu. Setan adalah sejenis kambing hitam yang keberadaannya membuat kita bisa merasa suci. Setan adalah dia yang disalahkan atas semua kesalahan kita. Setan, seperti ditunjukkan komik-komik ini, tak harus berupa makhluk bertanduk berekor. Kita bisa menganggap Amerika Serikat, Barat, atau siapapun yang kita anggap the other (yang beda) sebagai setan. Tapi, hati-hati, setan juga bisa menyamar sebagai diri kita tanpa kita kehendaki.
Maka, lepaskanlah pikiran kita dari sikap dogmatis, dan nikmatilah komik Aji Prasetyo ini! Selamat tergelitik.
http://klewang.multiply.com/journal/item/87/Simpati_pada_Si_Setan_Pengantar_dari_Ayu_Utami_untuk_komik_Hidup_itu_Indah

0 komentar:

Posting Komentar